GORONTALO – Barisan tenaga pengajar Akademi Dakwah Indonesia (ADI) Gorontalo kembali diperkuat oleh sosok akademisi yang memiliki visi pendidikan mendalam.
Dalam pertemuan silaturahim bersama jajaran pengurus Dewan Dakwah Gorontalo, Ustadz Rahmat Djafar, S.Pd.I., M.S.I. secara resmi menyatakan kesiapannya untuk berkhidmat membina para calon da’i.
Pertemuan yang berlangsung hangat tersebut menjadi panggung bagi Ustadz Rahmat Djafar untuk memaparkan pandangan ideologisnya mengenai arah pendidikan kader da’i.
Beliau melontarkan sebuah premis kuat yang menjadi ruh bagi pergerakan ADI ke depan: “Pendidikan memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh pendidikan”.
Membentengi Akidah di Era Digital
Menurut Ustadz Rahmat Djafar, di tengah derasnya arus digitalisasi, pendidikan agama (tarbiyah) bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan instrumen utama sebagai kontrol nilai dan norma dalam kehidupan.
Beliau menekankan pentingnya membentengi akidah dan moral generasi muda melalui pendidikan yang terstruktur.
“Kita harus membentengi akidah generasi kita dengan pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam, sebagai kontrol dalam kehidupan mereka di zaman yang serba digital ini,” ungkap beliau dalam pesan videonya.
Sinergi Tokoh untuk Satu Desa Satu Da’i
Kesiapan Ustadz Rahmat Djafar yang menyandang gelar Magister Studi Islam (M.S.I.) ini melengkapi jajaran pakar lainnya yang telah lebih dulu bergabung, seperti Dr. H. Yusuf Lauma, Lc., M.H.I. dan dukungan strategis dari Ustadz Dr. H. Abdurrahman Abubakar Bachmid, L.c..
Pengurus Dewan Dakwah Gorontalo menyambut baik komitmen ini, mengingat latar belakang pendidikan beliau yang sangat linier dengan kebutuhan kurikulum ADI. Sinergi ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya visi “Satu Desa Satu Da’i” melalui lulusan yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki metodologi pendidikan karakter yang mumpuni.





